Sejuk saat terkena angin malam mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari bagi dia. Dia adalah seorang pekerja keras yang tidak tamat SMP. Karna setelah mendapatkan ijazah SD ia tak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Dia bukan murid yang bodoh, ia pintar. Pernah ku dengar ia bercerita bahwa saat SD kelas 4, tugas yang di berikan guru, ia kerjakan dengan mendapatkan imbalan beruba uang saku. Tugas teman-temannya ia selesaikan.
Coba lihat aku sekarang, disaat ia bisa memberikan uang saku padaku, maka tidak banyak yang ku simpan. Sedangkan ia dulu, dari siapa ia dapatkan uang saku? Sekolah aja syukur. Anak yang tak tahu beban keluarganya itu bahkan sudah paham dan bisa menerapkannya langsung. Aku yang sudah tahu beban ini dan masih saja terus dan terus menerus melalaikan tugasku. Beban sepenuhnya ada pada anak pertama katanya.
Setelah capek berpetualang dengan badan kecilnya, lalu ia kembali ke kampung untuk memberikan hasil merantaunya selama berbulan di laut sebrang. Walau pun ia hanya tukang angkat barang, ia tetap bangga menceritakannya padaku. Dulu ia hanya mencari kebahagiannya dan ia tetap bertanggung jawab akan adiknya. Adikku? Sudah adanya bentuk tanggung jawabku padamu? Mungkin nanti saat abangmu ini sudah bisa membuat mereka tersenyum. Ibu dan Bapak kita.
Sampai akhirnya ia lelah, ia sampai ke kampung orang lalu kembali ke kampung halaman. Saat itu, seorang yang berwibawa tinggi datang dan menanyakan padanya. Nak, maukah kau ke Medan dan kerja bersama bapak? Orang itu adalah sepupu anak mulia itu. Sampai kapan derita ini kau tanggung? Sampai kapan juga aku suka akan melihat dan hanya melihat tanpa memetik pelajaran darimu? Mungkin saat aku sadar, bahwa hujan gak bakalan turun keatas. Saat air melaju ke tempat yang lebih tinggi?
Saat sampai di Medan, ia melihat dan memetik pelajaran. Usianya belasan tahun, sudah pandai memetik pelajaran yang sampai sekarang masih suka akan mengambil pelajaran dalam hidupnya yang sudah renta sekarang? Sejak di Medan, ia bisa mendapatkan penghasilan tetap. 40 ribu rupiah perbulan. Cukup untuk melanjutkan sekolah adiknya, menyuapkan nasi ke mulut adik-adiknya. Saat sudah merasa cukup, tuhan memanggil bapaknya. Ujian berat seperti apa lagi yang menderpamu wahai anak muda?
Apa sekarang anakmu ini menjadi ujian juga buat hidupmu? Ya aku adalah anak dari anak yang mulia itu. Seorang pria biasa yang memebesarkan anak yang bakalan besar juga namanya di negara ini. Anak yang akan selalu mengharumkan namanya, nama keluarganya, nama yang selalu di ingat akan apa prestasinya. Pak, doakan aku . Doakan aku akan hal yang tak mungkin di doakan orang lain kecuali kamu pak. Pak, memang aku banyak berbuat salah padamu, aku ujian juga bagimu, tapi itu menjadi batu loncatanku. Penyemangat hidupku adalah senyumanmu.
Gigimu yang sudah banyak hilang. Angin yang berpuluh tahun selalu kamu dapatkan. Repetan yang selalu kamu berikan sampai aku bosan mendengarkannya. Mungkin suatu saat nanti aku sangat sangat merasa rindu akan repetanmu, karna hanya al-fatihah yang bisa ku berikan dan mengharapkan repetanmu. Saat bumi yang kau pijak sekarang menjadi rumah terakhirmu. Tunggu aku pak, sampai kamu tahu siapa aku dan seberapa hebatnya bapak mendidikku.
Semoga tuhan selalu mendengarkan segala niat baikmu. Yang baik dimata manusia belum tentu baik dimata tuhan. Bapak selalu baik dimataku. Karna sejujurnya tak ada anak laki-laki yang mengaku bahwa ia sayang bapaknya dibawah sayangnya kepada ibunya.
EmoticonEmoticon